Sepenggal kisah
Assalamu'alaikum
Kolom ini tidak untuk menceritakan siapa aku, karena aku;
Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa.
Hanya seorang anak perempuan yang sejak kecil selalu dibacakan buku oleh sang Ibu, sang Ibu yang hanya berpendidikan akhir Sekolah Pendidikan Guru (setara SMA), namun memiliki kecintaan pada buku dan membacakan pada sang anak sangat tinggi. Tak pernah terpikirkan olehnya mungkin usahanya dalam menanamkan kecintaan membaca akan berbuah manis. Kini jika ku ditanya mengapa suka membaca aku akan menjawab; this happens with no reasons, my MOM is the answer.
Mama juga madrasah pertamaku, aku tak yakin dimana ia dapatkan ilmu parentingnya? mengingat ia adalah seorang gadis lugu dari kampung di Serang, Banten sana. yang menikah diusia 20 tahun, lalu bersama ayah di Ibukota. Saat itu ia tak menemukan kesempatan belajar via seorang dosen, bergaul dengan banyak orang-orang, atau dari pembicara dalam seminar pra nikah atau parenting, ataupun dari hasil browsing internet. Bukan juga dari hasil konsultasinya dengan seorang murabbiyahnya (guru ngaji). Ibuku 'hanya' seorang muslimah biasa, belum tertarbiyah ketika menikah, namun jilbabnya cukup membuatku tersenyum ketika ku melihatnya saat ini :').
Atas segala keterbatasan tsb Ibuku mampu menjadikan rumah bak sekolah pertama kami sebelum memasuki Taman Kanak-kanak, alphabet dan Iqro sudah dibekali olehnya.
Dari mana ia dapatkan segala ilmu parenting yang kini ku sadari banyak mencontoh dari sunnah nabi dan parental knowledge?
Ah ya aku ingat, mungkinkah ia dapatkan dari majalah UMMI yang sejak tahun 90an sudah ia baca? bisa jadi..
Ah ya aku ingat, mungkinkah ia dapatkan dari majalah UMMI yang sejak tahun 90an sudah ia baca? bisa jadi..
Widia juga hanya seorang -selamanya- gadis dari Ayahanda Irfan. Guru pertama bahasa inggrisku, guru olahraga bagiku (ayah mengajariku banyak olahraga; renang, badminton, catur, dan uhm tenis meja, namun yang sangat ku minati dari kecil adalah catur, ya kini menyesal tidak meminati yang lainnya --") Ayahku yang ntah sampai kapan akan memanggilku "Putri Ayu Andira" jika sedang memanggil-manggil iseng (?) jelas itu bukan namaku! tapi kata Ayah dulu aku mau dinamakan itu.. Well aku di rumah memang dipanggilnya Putri sih. Ayah ga salah kok.
Ayahku cocok sekali dengan Ibuku. ga tau lah pokoknya cocok. (Ayah tidak begitu sering terlihat memegang buku bacaan tapi tidak bisa dikatakan tidak suka membaca juga sih, dia punya koleksi buku pribadi juga, ya tapi itu, hanya saja jarang terlihat memegang buku bacaan haha berbeda dengan mama. so mereka cocok kan? atau memang jodoh itu begitu ya?)
Widia hanya seorang adik perempuan kelahiran dan tumbuh di era 90an.
Dimana masa kecilnya dihabiskan dengan bermain bersama kedua kakak laki-laki, bermain bola sepak, bermain layangan, bermain gundu, bermain balok-balokan, bermain lego, bermain sepeda, bermain bola kertas, bermain catur, mancing di akhir pekan di daerah muara angke sana. menemani menonton apapun tentang bola (liga apapun, dulu masih ada kabar berita seputar sepak bola seperti one stop football, dll) Tumbuh dengan seorang Ayah dan (hanya) dua kakak laki-laki selama 11 tahun (karena pada usia 11, lahirlah seorang adik perempuan) membuatku memiliki banyak kenangan menyenangkan dan manis. Namun masa-masa itu berakhir ketika ku memasuki dunia SMP (sudah punya banyak teman baru, lingkungan baru, aktivitas baru) tahun 2007. Tahun dimana aku kehilangan seorang kakak laki-laki kedua, kak Reza. dengan kehilangannya di dunia, berakhir pulalah masa-masa bermain ala anak laki-laki itu. Meski ku masih memiliki satu orang kakak laki-laki lagi, mas Yunan, namun rasanya sudah tak bisa sama persis lagi. Aku kehilangan sepertiga jiwaku.
Dan terkahir, widia hanyalah seorang kakak pada umumnya untuk seorang adik perempuan yang berjarak 11 tahun.
yang sampai saat ini sedang mengusahakan hal-hal baik dapat ku berikan kepadanya, agar Ibu dan Ayahku berbahagia di dunia dan terlebih di akhirat kelak memiliki dua orang anak perempuan shalihah.. Aamiin ya rabbal alamin..
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
[QS. at-Tahrîm (66):6]
[QS. at-Tahrîm (66):6]
Salam Sayang Selamanya Hingga Surga,
Widia Irfiani
(Putri Ayah Irfan dan Mama Nuraini
Adik Mas Yunan dan Kakak Reza
dan
Mba Uti untuk Fannisa)




Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar :)