Mengelola rasa kecewa
Tak ada manusia yang luput dari rasa kecewa. Pilihannya bukan antara ia dikecewakan atau mengecewakan. Tapi keduanya. Kita akan mengalami keduanya selagi kita masih bernafas. Kita hari ini dikecewakan, belum lama mengecewakan. Ngga percaya? Coba tanya pada manusia paling jujur, anak belum baligh kita. Ia kerap kecewa oleh sikap kita si manusia dewasa. tapi tak tau itu kecewa, yang ia tau hanya perasaan sedih, marah, senang, dan takut. Kasian ya? Ga apa, spektrum emosi mereka memang baru sedikit. Lambat laun mereka paham yang dulu itu adalah kecewa. Dan sudah lewat. Sebaiknya, sebelum ia mengenang itu sebagai kekecewaan, maaf kita sudah disampaikan. Beda perkara dengan --mudahnya yg terlintas, pengkhianatan. Ada yang sampai akhir hayatnya tak pernah mengalami salah satunya, atau bahkan keduanya. Hal yg bisa saja terjadi, dan banyak terjadi. Sedangkan kecewa; ia rasanya melekat pada ruh manusia. Mengalir di darah hangat manusia. Ia saudara kandung dari rasa harap dan ekspektasi. Jug...