Mengelola rasa kecewa

Tak ada manusia yang luput dari rasa kecewa.
Pilihannya bukan antara ia dikecewakan atau mengecewakan.
Tapi keduanya. Kita akan mengalami keduanya selagi kita masih bernafas. Kita hari ini dikecewakan, belum lama mengecewakan. Ngga percaya? Coba tanya pada manusia paling jujur, anak belum baligh kita. Ia kerap kecewa oleh sikap kita si manusia dewasa. tapi tak tau itu kecewa, yang ia tau hanya perasaan sedih, marah, senang, dan takut. 
Kasian ya? Ga apa, spektrum emosi mereka memang baru sedikit. Lambat laun mereka paham yang dulu itu adalah kecewa. Dan sudah lewat. Sebaiknya, sebelum ia mengenang itu sebagai kekecewaan, maaf kita sudah disampaikan.

Beda perkara dengan --mudahnya yg terlintas, pengkhianatan. Ada yang sampai akhir hayatnya tak pernah mengalami salah satunya, atau bahkan keduanya. Hal yg bisa saja terjadi, dan banyak terjadi.

Sedangkan kecewa; ia rasanya melekat pada ruh manusia. Mengalir di darah hangat manusia.
Ia saudara kandung dari rasa harap dan ekspektasi. Juga dari kepayahan kita sebagai manusia yang tak mampu terus berjalan tegak lurus, sedangkan ada oranglain yang terus mengamati cara jalan kita.

Kecewa punya skala. Dari yg kecil-kecil saja sampai teramat besar. Dari kecewa karena mie ayam kesukaan kita hari ini tidak lewat padahal sudah menanti dan perut sudah sangat lapar, sampai kecewa melihat kebijakan dungu yang diambil oleh pemerintah. Perbedaan skala tersebut tergantung seberapa besar kita menaruh, meletakan, hati kita pada urusan tsb.

Agama kita telah mengaturnya. 
Tapi kita memang suka bermain-main.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAO, apa sih TAO?

jikoshoukai die Bekanntschaft

Teruntuk adik-adik 2016