TAO, apa sih TAO?
Assalamu'alaikum
Alhamdulillah berkesempatan untuk menuliskan salam pembuka diatas, bahkan sampai detik ini tiada kekurangan suatu apapun yang ku rasakan, tidak juga nikmat-nikmat lainnya yang tercerabut. Alhamdulillah..
Pernahkah kamu merasa begitu tertekan ketika kamu menemui keadaan di mana kamu mengetahui suatu kebatilan baik itu menyakiti dirimu langsung ataupun tidak?
pernahkan kamu merasa bahwa rasa tidak nyaman atau rasa sakit itu mesti sekali diperlihatkan, diberitahu, dan dipertanggungjawabkan oleh si pelaku?
pernahkah kamu merasa bahwa setidaknya orang tersebut mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadamu?
atau paling tidak,
pernahkah kamu merasa kamu perlu membuktikannya kembali bahwa benar dia bersalah, hanya agar hatimu 'puas' ya benar dia salah, dan saya adalah korban atas kesalahan dia. pernahkah?
Aku pernah, sering, sebelum akhirnya bertemu konsep memaafkan bernama The Art of Overlooking.
ya, tidak salah. overlook. melupakan; memaafkan; mengabaikan; melewatkan.
Sebelumnya saya adalah pribadi yang begitu pusing memikirkan kesalahan pribadi maupun kesalahan orang lain yang cukup mempengaruhi diri saya (baca: menyakiti).
saya paham keutamaan memaafkan, pun dengan sikap saya kepada orang tersebut, saya tidak menyakiti balik mereka. saya tidak menyerang mereka, dan saya tidak melakukan reaksi negatif apa-apa kepada mereka. Hanya saja saya kecewa, menangis, lalu bertanya-tanya kenapa dia seperti itu, kok ya tega sih, kok... oh ternyata memang saya yang menyebabkannya (biasanya mikir begini), oh jadi karena saya. kemudian pusing tak berkesudahan.haha
Ngga sih, ngga begitu juga, intinya pikiran saya terlalu penuh oleh hal-hal besar dan hal-hal kecil. kenangan-kenangan pahit belum habis larut oleh waktu sudah ditambah lagi dengan yang baru. Yang melekat pada ingatan saya bukan siapa yang melakukannya tetapi apa yang dilakukannya. Itu sangat membebani saya, sehingga ada waktunya ketika sesuatu hal mengingatkan pada itu semua... BOOM! meledak. dan saya hanya menangis, buruk banget kan? untuk seorang muslimah yang katanya udah tahunan ngaji tapi belum selesai perkara manajemen hati dan pikiran, apa yang pantas dipikirkan dan apa yang tidak perlu. hahahahah...hahhaah.. huhuhu..
Hingga datanglah konsep overlooking ini, seorang sahabat baik dari semester satu kuliah, memang saya sering berdiskusi dengan dia, biasanya diskusi sesuatu yang deep and serious thingy (wkwk) dan hanya berdua, baik ketemu langsung maupun via telepon. Selain kesamaan usia kami diantara sahabat yang lain, saya memilih dia untuk dijadikan teman diskusi serius-serius atau yang berkenaan dengan soul and mind juga karena cocok aja wkwk perempuan lho ya! haha ga sanggup qaqa kalau diskusi-diskusi-an (diluar ilmu pengetahuan dan organisasi) sama lelaki mah, alih-alih problem solved eh malah nyaman lagi nanti.:/ ewh ini jadi kemana-mana
YA? JADI APA TAO INI WID?
Hmm...
Bagaimana ya..
ini yang ku dapat dan ku tangkap lalu ku simpulkan bada diskusi tentang overlooking ini ya..
kamu boleh sepakat boleh tidak, boleh diambil hikmahnya boleh tidak, boleh berhenti baca sampai sini boleh lanjutkan,, boleh, kamu boleh apapun..
Ketika kamu sudah tau bahwa seseorang telah melakukan kesalahan baik kepadamu ataupun kepada oranglain, (fokusnya sih lebih ke kamu, objeknya kamu.)
Ketika kamu sudah tau bahwa seseorang telah melakukan kebohongan kepadamu, atau menyembunyikan sesuatu darimu. Ketika kamu tau itu semua tanpa orang tersebut mengetahuinya bahwa kamu sudah tau apa yang dia lakukan; maka kamu punya dua pilihan.
pertama, kamu segera juga mengonfirmasi kepadanya "benar kan kamu yang lakukan ini? aku sakit
tau!" ya terserahlah bagaimana redaksinya, intinya kamu dengan semangat membela hati (atau nafsu?) mu segera 'menyerang' si pelaku, 'mengaku' sebagai korbannya. paling tidak dia harus tau dong kalau yang dia lakukan itu salah, menyakiti saya! Ya, meskipun benar kamu memang telah disakiti oleh apa yang dilakukannya. kamu benar korbannya kok. ga salah.
atau yang kedua, yaitu kamu menahannya dahulu, kamu pikirkan lagi "apakah perlakuannya itu berdampak besar bagi saya?" "apakah memang semenyakitkan itu?" "apakah memang berpengaruh pada hidupku kedepannya?" "apakah ini akan menyelakakan saya?" "dan apakah rasa sakit ini lebih utama dari hubungan saya dengan dia selama ini?"
dan ya, jika kamu memilih pilihan kedua, selamat, kamu telah memasuki tahap awal TAO ini :)
masih mau lanjut? :D
Alhamdulillah berkesempatan untuk menuliskan salam pembuka diatas, bahkan sampai detik ini tiada kekurangan suatu apapun yang ku rasakan, tidak juga nikmat-nikmat lainnya yang tercerabut. Alhamdulillah..
Pernahkah kamu merasa begitu tertekan ketika kamu menemui keadaan di mana kamu mengetahui suatu kebatilan baik itu menyakiti dirimu langsung ataupun tidak?
pernahkan kamu merasa bahwa rasa tidak nyaman atau rasa sakit itu mesti sekali diperlihatkan, diberitahu, dan dipertanggungjawabkan oleh si pelaku?
pernahkah kamu merasa bahwa setidaknya orang tersebut mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadamu?
atau paling tidak,
pernahkah kamu merasa kamu perlu membuktikannya kembali bahwa benar dia bersalah, hanya agar hatimu 'puas' ya benar dia salah, dan saya adalah korban atas kesalahan dia. pernahkah?
Aku pernah, sering, sebelum akhirnya bertemu konsep memaafkan bernama The Art of Overlooking.
ya, tidak salah. overlook. melupakan; memaafkan; mengabaikan; melewatkan.
Sebelumnya saya adalah pribadi yang begitu pusing memikirkan kesalahan pribadi maupun kesalahan orang lain yang cukup mempengaruhi diri saya (baca: menyakiti).
saya paham keutamaan memaafkan, pun dengan sikap saya kepada orang tersebut, saya tidak menyakiti balik mereka. saya tidak menyerang mereka, dan saya tidak melakukan reaksi negatif apa-apa kepada mereka. Hanya saja saya kecewa, menangis, lalu bertanya-tanya kenapa dia seperti itu, kok ya tega sih, kok... oh ternyata memang saya yang menyebabkannya (biasanya mikir begini), oh jadi karena saya. kemudian pusing tak berkesudahan.haha
Ngga sih, ngga begitu juga, intinya pikiran saya terlalu penuh oleh hal-hal besar dan hal-hal kecil. kenangan-kenangan pahit belum habis larut oleh waktu sudah ditambah lagi dengan yang baru. Yang melekat pada ingatan saya bukan siapa yang melakukannya tetapi apa yang dilakukannya. Itu sangat membebani saya, sehingga ada waktunya ketika sesuatu hal mengingatkan pada itu semua... BOOM! meledak. dan saya hanya menangis, buruk banget kan? untuk seorang muslimah yang katanya udah tahunan ngaji tapi belum selesai perkara manajemen hati dan pikiran, apa yang pantas dipikirkan dan apa yang tidak perlu. hahahahah...hahhaah.. huhuhu..
Hingga datanglah konsep overlooking ini, seorang sahabat baik dari semester satu kuliah, memang saya sering berdiskusi dengan dia, biasanya diskusi sesuatu yang deep and serious thingy (wkwk) dan hanya berdua, baik ketemu langsung maupun via telepon. Selain kesamaan usia kami diantara sahabat yang lain, saya memilih dia untuk dijadikan teman diskusi serius-serius atau yang berkenaan dengan soul and mind juga karena cocok aja wkwk perempuan lho ya! haha ga sanggup qaqa kalau diskusi-diskusi-an (diluar ilmu pengetahuan dan organisasi) sama lelaki mah, alih-alih problem solved eh malah nyaman lagi nanti.:/ ewh ini jadi kemana-mana
YA? JADI APA TAO INI WID?
Hmm...
Bagaimana ya..
ini yang ku dapat dan ku tangkap lalu ku simpulkan bada diskusi tentang overlooking ini ya..
kamu boleh sepakat boleh tidak, boleh diambil hikmahnya boleh tidak, boleh berhenti baca sampai sini boleh lanjutkan,, boleh, kamu boleh apapun..
Ketika kamu sudah tau bahwa seseorang telah melakukan kesalahan baik kepadamu ataupun kepada oranglain, (fokusnya sih lebih ke kamu, objeknya kamu.)
Ketika kamu sudah tau bahwa seseorang telah melakukan kebohongan kepadamu, atau menyembunyikan sesuatu darimu. Ketika kamu tau itu semua tanpa orang tersebut mengetahuinya bahwa kamu sudah tau apa yang dia lakukan; maka kamu punya dua pilihan.
pertama, kamu segera juga mengonfirmasi kepadanya "benar kan kamu yang lakukan ini? aku sakit
tau!" ya terserahlah bagaimana redaksinya, intinya kamu dengan semangat membela hati (atau nafsu?) mu segera 'menyerang' si pelaku, 'mengaku' sebagai korbannya. paling tidak dia harus tau dong kalau yang dia lakukan itu salah, menyakiti saya! Ya, meskipun benar kamu memang telah disakiti oleh apa yang dilakukannya. kamu benar korbannya kok. ga salah.
atau yang kedua, yaitu kamu menahannya dahulu, kamu pikirkan lagi "apakah perlakuannya itu berdampak besar bagi saya?" "apakah memang semenyakitkan itu?" "apakah memang berpengaruh pada hidupku kedepannya?" "apakah ini akan menyelakakan saya?" "dan apakah rasa sakit ini lebih utama dari hubungan saya dengan dia selama ini?"
dan ya, jika kamu memilih pilihan kedua, selamat, kamu telah memasuki tahap awal TAO ini :)
masih mau lanjut? :D
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar :)