Menjadi sebaik baik pemaaf
Bismillah.
Pukul 22:51 WIB saat mulai kutuliskan draft ini. Di ruangan dingin berisi empat orang jiwa, dengan tiga jiwa yang sudah terlelap.
Kusempatkan panjatkan doa agar tiga jiwa yang kucintai ini Allah jaga sepanjang malam hingga esok takdir mempertemukan kami kembali. Aamiin..
Pukul 22:30 WIB sekiranya, aku tengah menghangatkan sayur dan opor lebaran untuk dimakan esok saat hari raya. Sayur, opor ayam, sambal goreng ati, dan juga ketupat tentunya hasil pesan catering..
Betul, aku belum mampu membuatnya sendiri secara skill terlebih secara waktu. Kapan-kapan kuberitahu lebih detail tentang mereka yg memiliki 65% waktuku dalam sehari-hari, ya.. mereka anak-anakku. Iya anak-anakku. Ada dua sekarang. Alhamdulillah..
Pukul 22:20 WIB sepertinya, anakku yang pertama terbangun, resah, biasanya kalau resah karena ingin pipis. Benar saja ia ingin pipis. Karena posisiku sedang menyusui adiknya, akhirnya yang mengantarkan ia pipis adalah ayahnya. Kelar pipis ia kembali tidur dengan lelap. Bersamaan dengan itu anakku yang kedua melepas ASInya. Melegakan bagiku karena sepertinya sudah sejaman ia menyusu. Dan saat itulah aku pelan-pelan bangun lalu ke dapur untuk menghangatkan sayur.
Pukul 20:30 sampai 22:20 WIB adalah waktu dimana saya tengah terlelap. Setelah menyusui anak kedua hingga ia tertidur saya pun ikut tertidur. Suami pun tertidur dengan mudahnya. Namun ada yang terakhir lelap yaitu anak pertamaku. Seingatku hingga aku betul-betul jatuh tertidur ia masih main dengan mobil pemadam kebakarannya, dimainkan sambil ia rebahan dan mulutnya merapalkan surah al fatiha. Modenya udah cukup ngantuk hanya saja masih ingin main.
Saya tidak tau lagi bagaimana kelanjutannya selain dia ingin pegang tangan saya seperti malam-malam biasanya.. pegang tangan atau lengan bunda adalah cara anak saya tertidur, pokoknya harus. Khas anak-anak sekali ya..
Pukul... lepas maghrib hingga lepas isya WIB.
Kami sekeluarga duduk depan tv yang tengah menayangkan siaran langsung dari mekkah dan mina. MasyaAllah.. sembari saya dan suami menyantap makan malam dengan ayam geprek telor ceplok tumis daun pepaya serta sambalnya diatas ayam krispi yang digeprek rata. Saya dengan sambal original dan suami sambal matah, keduanya uenaak mantap. Sampai-sampai rasa pedasnya membuat hidung saya sedikit meler.. jarang sekali yg pedasnya begini. (Oh ini juga hasil pesan online, karena request suami yg tengah puasa dan ingin buka dengan ayam geprek)
Saya jadi ingat saat makan sambil nonton live jamaah haji, saya bilang
"jadi pingin nangis deh"
Hah kenapa
"Itu lihat jamaah disana"
Oh aku kira karena kepedesan
...
Selepas kami makan bergantianlah anak-anak yang makan. Saya sudah membuatkan sup jagung dan telur sebelum maghrib tadi. Untuk mereka berdua..
Anak kedua saya menyukai menunya. Alhamdulillah. Meski giginya baruuu bangett numbuh dua biji namun semangat sekali dia untuk ngunyah makanan tekstur keras seperti biji jagung manis, dll. Sebaliknya yg lumer-lumer, cenderung benyek, lumat malah dia tolak guys. Unik memang.
Sampailah pada saat anak pertama saya makan.
Ada kendala di awal-awal sebagaimana jika ia tidak begitu menyukai menunya.. tapi hampir selalu bisa dilobi dan dimakannya. Termasuk malam ini, ternyata menunya lagi bukan yg dia mau. Karena pengalaman hampir selalu tetap dimakan, kami ayah bundanya terus merayunya untuk makan.
Sebetulnya untuk masalah makan, anak pertama kami sejak 3-4 bulan ini sudah membaik sekali. Alhamdulillah. Secara appetite, menu makanan yang bisa diterima, dan porsi sudah jauh membaik dibanding sebelumnya yang hampir membuat saya juga suami strezzz dgn urusan makan makan makan ini.
Tidak perlu lah kami cerita usaha apa saja hingga sampai di titik ini ya.. karena panjang 😂
Balik lagi ke makan malam anak pertama kami hari ini, dia masih saja cari alasan utk menolak. Ya sama bunda lah makannya, sholat dulu lah, duduk disini dululah, sampai ujung-ujungnya hanya mau makan nasinya saja. 😏
Ada tensi yang meninggi saat itu. Karena memang setidaknyaman itu prosesnya bagi kami orangtua. Saya menutup tensi saya dengan kalimat yasudah terserah kakak ya, kalau laper nanti gapapa ya. Ga makan.
Lalu saya tinggal ia untuk ke kamar mandi.
Saya tidak mengerti bagaimana mereka berdua menciptakan suasana hingga begitu intense. Sekeluarnya saya dari kamar mandi tau-tau anak pertama saya sudah nangis.
Ternyata tensi suami saya belum berakhir.. karena memang sejak awal suami yang bertugas menyuapi makan (makanan menu berkuah masih harus dibantu suapi, selain itu anakku sudah bisa dan memang maunya utk makan sendiri)
Saya mengambil alih. Saya ikut menangis dalam hati. Mengapa proses makan harus begitu mengambil emosi seintens ini.
Saya masih marah dengan keadaan dan menjatuhkannya dengan menangis, anak pertama saya juga masih menangis.
Kubawa menepi ke dalam kamar, dia diam disana dan mau makan dengan baik bersama saya.
Tidak lama dari selesai makan, hati saya masih kacau tapi tidak dengan anak pertama saya. Dia sudah mendatangi ayahnya kembali dengan senyum dan tawanya mengajak ayahnya ikut masuk kamar. Hati saya remuk. Semudah itu memaafkan. Semudah itu melupakan. Tanpa tapi. Tanpa syarat. Tanpa tersisa. Seperti anak-anak kita.
...
Pukul 23:44 WIB kini.
Aku menatap kepada anak pertamaku. Si anak hajat. Hajat kami semua pendamba anak pertama hasil pernikahan penuh bahagia. Anak yang sejak ditemukan detaknya dalam kantung janin sudah dihujani beribu syukur dan air mata bahagia.
Biarkan bunda dan ayahmu belajar menjadi pemaaf sepertimu, nak.
Memaafkan tanpa keraguan akan kesalahan oranglain terulang lagi atau tidak. Nyatanya sering terulang lagi; dan sesering itu pula kamu kembali memaafkan lalu melupakannya. Seperti tidak pernah terlukai. Seperti tidak pernah terjadi.
Anak pertamaku, Ismail.
23:51 WIB, kelak jika kamu membaca ini, semoga Allah terus jadikanmu pribadi yang penuh kesabaran dan ridha seperti nabi Ismail as dan pribadi pemaaf dan penuh kasih sayang seperti Rasulullah saw..
Bunda dan ayah akan terus berdoa kepada Allah agar kami sebagai orangtua selalu dimudahkan untuk meminta maaf kepadamu dan adikmu. Dan menjadi pemaaf sepertimu..
Selamat idul adha anak pertamaku, namamu dalam setiap khutbah idul adha selalu tersebut.
Kisah teladan yang tak akan pernah usang nan selalu hangat di hati; kisah ketaatan seorang ayah dan keridhaan seorang anak.. semoga keluarga kita bisa mendekati kesholihan keluarga Ibrahim a.s..
...
23:59 WIB
Saya akhiri tulisan ini sebagai tulisan pertama saya di blog ini selaku ibu dari dua anak laki-laki yang masih terus belajar dan butuh bimbingan dari Allah. Tuntun kami ya Rabb..
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar :)