8 to infinity

Inspirasi. satu kata yang bisa didapat dari mana saja, dari mendengar, melihat, merasa, mengecap, sampai menjejak. 

Kali ini saya mendapat inspirasi dari melihat, tepatnya membaca kembali tulisan-tulisan seseorang.
Tulisan usang, berjarak tahunan dari saat ini. 
Meski usang --tersebab tak ada lagi tulisan terbarunya, namun tulisan-tulisan tersebut terasa masih hangat, seperti pemiliknya sedang bercerita langsung di hadapan saya

Tulisannya ber-nas, baik secara keilmuan maupun secara kesasteraan.
Ia terbagi dalam beberapa kategori, mungkin disesuaikan dengan suasana hati penulisnya.
Yang jelas, saat membacanya seperti tenggelam menjadi bagian dari cerita.
Seusai membaca, selalu ada rasa ingin segera menuang isi kepala.
Jika itu tulisan seruan, ia seolah mengajak untuk bergerak. Seperti saat ini yang saya lakukan.
Jika jatuh cinta pada tulisannya membuat kaya raya, mungkin saya sudah tidak perlu berkerja.

Sedikit memberimu bayangan bagaimana semua bermula..

Saya mengenalnya sudah berjalan 8 tahun, tahun 2016 kali pertama saya tau bahwa di dunia saya yang hanya seputaran Jakarta - Depok, hiduplah dia dengan pemberian nama yang baik dari kedua orangtuanya. 

Dia menghirup udara segar (saat itu) Kampus UI yang sama dengan saya. Melihat riak air danau yang sama dengan saya. Melintas banyak jalan yang sama karena fakultas kami bersebelahan saja. 
Skenario "yang sama" itu berakhir atau malah bermula? di sebuah Masjid terbesar di Kampus UI. 
Kami memilih, atau tepatnya ditakdirkan untuk menetap sebentar saja. setidaknya satu tahun, di jalan juang yang sama. Berkegiatan dan menjalani hari-hari dengan bermodalkan ingatan nama dan asal fakultas seperti yang kami tulis pada kontak ponsel masing-masing. 

Saya mengenalnya sudah berjalan 8 tahun, tahun 2017 adalah kali pertama saya tau ternyata ia bisa tertawa. 
Pengetahuan saya akan dirinya bertambah sejengkal dari setahun lalu, tidak lagi hanya nama dan fakultas.
Saya tau bahwa dalam tenangnya ada gemuruh, dalam kekakuannya ada keluwesan.

Jika diberi kemampuan menyelam, kedalaman pikirnya yang ditumpahkan menjadi tulisan dan ucapan adalah tempat yang ingin saya selami. 

Terkadang saya ingin menjadi pendengar untuk setiap cerita yang ia tulis tanpa harus bertatap wajah atau bertukar suara. 
Tak peduli menjadi tokoh utama atau bukan, tak peduli untuk siapa puisi-puisi itu dibuat, 
sayangnya, dimasa itu, saya tidak berani dan tidak mampu. 

Saya hanya menjadi penikmat dalam diam walau secara terangnya saya tidak peduli.
Dalam diam dan tanpa kagum saja saya masih merasa bersalah dan berdosa.

Tulisannya tak pernah kekurangan diksi apalagi makna. 
Saya jengah memikirkan sebanyak apa buku yang ia lahap dan pengalaman apa saja yang ia lalui
Saya juga sempat memikirkan, bulan yang bagaimana yang ia tatap, sabit kah? purnama kah? 
Deburan ombak apa yang ia dengar, hingga sapuan angin seperti apa yang dapat menelurkan buah pikiran seperti miliknya.

Semua rasa penasaran tersebut saya kubur perlahan seiring dengan kekhawatiran yang menyusup. 
"Ada baiknya saya lupakan ia dan tulisannya" tutup saya disuatu malam dengan hati yang ringan saja, jika boleh tidak jujur.

Lalu, bagaimana dengan saat ini?

Saat ini?
Ya.

Saat ini saya tidak perlu lagi menjadi penikmatnya dalam diam.
Saat ini, pada siang atau malam, saya masih dapat melihat jemarinya bertaut dengan tuts keyboard, 
sesekali ia berhenti, berpikir mencari yang terserak di kepalanya, lalu dilanjutkan kembali tanpa henti.
 
Ia mengetik banyak kata yang menjadi paragraf dan tulisan panjang, menulis bahan kajian adalah kesehariannya.
Keluasan dan ketajaman pikirnya tidak hilang dan tidak pudar.
Ia masih bersinar dalam tulisannya.
Ia abadi dalam tulisannya.

Ia bisa menulis apapun, tapi ia tak tau kalau ia adalah tulisan yang belum selesai saya tulis.


-W

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAO, apa sih TAO?

jikoshoukai die Bekanntschaft

Teruntuk adik-adik 2016