Amin Paling Serius
Ada sebuah lagu, yang baru saya dengar sepintas saja, tapi karena suara perempuannya menarik perhatian alias bagus, jadi saya jeda untuk mendengar dengan lebih detil.
Wow ternyata bagus. Lalu sy carilah di spotify yg tidak premium itu.
Keluar judulnya "Amin paling serius"
Dinyanyikan oleh Sal Priadi dan Nadin Amizah.
Lalu saya langsung menyimak liriknya.
Karena pada saat dinyanyikan ada banyak artikulasi yg kurang jelas. Padahal sy yakin bagus. Dan benar juga; bagus dan indah.
Pada intro sampai sebelum reff, sangat mengingatkan saya pada gaya penulisan seseorang.
Di tahun 2017.
Tentu saya menyukainya.
Gaya penulisan yang menuangkan perasaan juga pikiran dengan begitu indah, pilihan kata yg tidak terlalu berat ataupun tidak terlalu asing, tapi juga bukan yang amat sederhana. Kesemua itu saat disandingkan dengan pilihan kata lainnya menyatu jadi bagian yg lengkap, juga hangat dibacanya. Setidaknya bagi saya begitu.
Saya bawakan sepenggal lirik dari Amin paling serius, ini ya..
Aku tahu, kamu lahir dari
Cantik utuh cahaya rembulan
Sedang aku dari badai marah riuh yang berisik
Juga banyak hal-hal yang sedih
Tapi menurut aku, kamu cemerlang
Mampu melahirkan bintang-bintang
Menurutku, ini juga kar'na hebatnya badaimu
Juga kar'na lembutnya tuturmu
.....
Lalu mari kita bawakan sepenggal tulisan seseorang itu,
“Aku api dan kamu air”, katamu buru-buru.
Aku membantah, “Bukan, aku yang api dan kamu yang air!”
Kita akhirnya berdebat siapa yang api dan siapa yang air, bahwa api akan membakar apapun yang menghalangi jalannya lalu mati setelah menunaikan tugasnya; juga tentang air yang tak henti mengalir melibas semua yang menghadangnya, hingga ia menggenang dan terbang menjadi awan. Kamu merasa dirimu mirip api yang tak akan berhenti membakar, tapi rasa-rasanya bagiku kamu lebih mirip air karena kau jauh lebih gampang cair, dan aku yang api. Bukan, katamu, aku yang api dan kamu yang air! Bukan!
Begitulah. Orang-orang yang lewat akhirnya memberikan kesimpulan sendiri: aku dan kamu bukan api maupun air; kita sama-sama batu.
...
Ada lagi, yang juga kusukai dari tulisannya, seperti ini bunyinya..
Seperti kenangan, hujan juga bisa tumpah
Seperti kesedihan, tanah juga bisa diam.
Aku ingin menjadi tanah yang sabar
menampung segala hujanmu.
Kamu adalah hujan yang dengannya
aku bisa terus bertahan.
Di hujanmu aku sembunyikan tangis,
marah, kecewa, dan rindu.
Dan tanahku seumpama ibu
yang mendekap segala cemasmu.
..
Lalu pada akhir paragraf tentang hujan dan tanah itu, ia tulis:
Tapi mungkin;
entah hari ini,
atau suatu saat nanti:
Kamu hujan yang membasahi
tanah yang lain.
Aku tanah yang menerima
hujan yang lain.
......
Ohh maha baiknya Allah, sang penguasa alam..
Tanah dan hujan yang penulis maksud telah disatukan dalam ikatan suci pernikahan pada April 2018 silam.
Dear, suamiku..
Penulis kesukaanku.
Imam kesayanganku..
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar :)