Catatan Harian Calon Ibu (Hafidzah) (dari anak-anak Hafidzh/ah) – Juni 2017
Bismillah..
Assalamu’alaikum warahmatullah..
Alhamdulillah, sampai dengan saat ini, H+8 keluar dari
Dauroh Quran, Allah masih beri nikmat itu.. meskipun tidak sama persis seperti
saat Dauroh lalu :’
Ooh iya, sebelumnya mari kita perkenalan diri dulu hehe..
Saya Widia, muslimah biasa-biasa saja, berpendidikan akhir
SMA, insyaa Allah segera dalam waktu dekat menyelesaikan Strata 1 nya.. :)
Saya senang mengatakan biasa-biasa saja, karena dengan
mengatakan biasa-biasa saja tak ada peluang bagi diri saya untuk merasa hebat.
Untuk merasa superior. Untuk merasa lebih dari yang lain.. setidaknya itu cukup efektif sejauh ini..
Biasa-biasa aja membuat saya merasa setenang itu..
Iya, saya ingin dikenang sebagai muslimah
yang biasa-biasa aja..
tidak terlalu dikenal banyak orang, apalagi dipuji
sana-sini hehe..
tapi bukan berarti tidak berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi ummat, saya tetap punya mimpi besar menjadi bermanfaat seperti (almh) ustadzah Yoyoh atau ustadzah Wiwi, bagi saya mereka adalah contoh nyata perpaduan "biasa-biasa" aja dalam gaya hidup dan "luar biasa" dalam berkontribusi untuk dakwah. masyaa Allah..
Saya juga ingin sekali menjadi pribadi yang sederhana.
Sederhana dalam bersikap, sederhana dalam bertutur kata, sederhana dalam
berpakaian, sederhana dalam menyikapi masalah, sederhana dalam menghadapi
kebahagiaan maupun kesedihan yang menimpa --> hasil tadabbur surah al Hadiid: 23 :')
Saya ingin sekali memiliki jiwa
yang tenang, wajah yang meneduhkan, hati yang lapang, persis seperti ummahaat
sholihaat di luar sana. Seperti ibu saya juga.. seperti ibu-ibu kita :)
Semakin bertambah usia, iya, kini saya berusia 23 hehe..
tidak lagi dibilang dewasa awal ya? Kayaknya sih udah masuk dewasa tengah,
alias memasuki sebenar-benarnya kedewasaan.
Dulu, ya setahun yang lalu lah ya, saya masih merasa
muda-muda aja. 22 masih muda ah. Masih dimaklumi jika ada sikap yang
‘bergelora’.. masih oke aja untuk emosi dibalas emosi. Dan lain-lain.. tapi
kini, rasanya saya harus benar-benar memikirkan lebih dahulu tiap sikap yang
akan saya ambil. Tiap respon, tiap ekspresi. Bukan, bukan berarti saya tidak
menjadi diri sendiri, atau sedang menjaga image. Atau mengubah citra. Ntah ya,
hal itu lahir dari dalam diri aja, seperti ada yang menahan. Seperti ada pagar.
Seperti ada warning “Hayo kamu widia umur 23 ya. Pikirkan lagi” begitu
kira-kira.
Terakhir saya menggunakan kata “Terserah” itu awal Mei lalu.
Saat usia saya udah memasuki 23. Saya merespons perkataan seseorang via chat
dengan “Terserah” sebagai ungkapan rasa
kesal dan campur ga mau tau lagi.
Terserah itu bagaikan shortcut dari rumitnya
percakapan atau masalah yang tengah dihadapi ya.. Oh iya, orang tersebut
menjawabnya dengan “Udah 23 tahun, harus lebih dewasa :)” bayangkan lagi kesal dapat
nasihat macam itu, seolah-olah saya di usia yang sudah 23 saat itu tidak dewasa dengan mengatakan
TERSERAH.
Darah rasanya makin mendidih. Saya istighfar dan coba atur
pernafasan, sampai tenang, saya baca kembali percakapan kami.
Oh iya deh.. memang
saya kurang dewasa dengan mengatakan terserah, padahal perkataan dia sebelumnya
baik-baik saja, ya meskipun ada rasa-rasa menyulut emosinya, tapi kenapa saya tersulut?
Saya kalah dong? Hoo sayang sekali..
Selepas kejadian itu, saya benar-benar memerhatikan betul
reaksi saya terhadap perkataan dan sikap orang lain kepada saya.
Dan memang, output utama yang saya harapkan dari "membaiknya" hubungan saya dengan Al-Qur'an, adalah kemampuan dalam mengelola emosi dan nafsu, dan selalu dipautkan hatinya pada Al-Qur'an.
Al-Qur'an dengan segala mukjizat yang dimiliknya, berhasil membuat saya merasa selalu diawasi Allah, selalu merasa direminder: "hayoo ga takut itu hafalan hilang dan sia-sia?" "hayoo, mana ada ahlul Qur'an emosian dan ngumbar nafsu" "diiih katanya mau berakhlaq Qurani. masa gitu?" dll.. IYA KALIMAT-KALIMAT ITU SELALU MENYERGAP tiap kali saya tersulut emosi.. masyaa Allah.. saya bukan siapa-siapa, anak pondok bukan, anak santri berasrama IQF/RQ/semacamnya juga bukan, hafalan juga jauh dari ekspektasi yang orang-orang kira. kenal dan penjajakan dengan Al-Qur'an juga baru banget, tapi Allah kasih nikmat itu.. nikmat terus merasa diawasi, nikmat mampu menahan emosi dan memilih bersabar, nikmat merasa Al-Qur'an selalu ada kapanpun, nikmat ditumbuhkannya rasa terpaut pada Al-Qur'an, nikmat merasa kerdil dan harus terus belajar perbaiki bacaan dan mengulang hafalan yang sedikit itu, nikmat diberi tekad suatu saat akan selesai 30 juz.. Semua rasa-rasa itu, kan, bukan murni muncul dari diri saya, tapi Allah yang menumbuhkan dan menggerakan.. iya kan?
Dan semua itu bagi saya sangat cukup.. adapun selesainya hafalan 30 juz adalah anugerah atau taufik yang Allah berikan pada hamba-hamba-Nya yang Ia kehendaki. Semoga suatu saat Ia kehendaki diri ini untuk menjadi salah satu dari keluarga-Nya, (sambil terus berusaha menjemputnya juga) Aamiin ya rabbalamin..
pesan penting:
Widia... lihatlah catatan ini dikala kamu merasa mudah tersulut emosi dan nafsu syahwat.. dikala kamu merasa biasa-biasa aja dalam memandang Al-Qur'an yang tergeletak, disaat kamu merasa biasa-biasa aja tak ingat surah-surah yang pernah dihafal, dikala kamu merasa biasa-biasa aja tak ada satupun ayat yang bertambah.. atau bahkan disaat hati kamu merasa biasa-biasa aja ketika mendengar kalam-Nya.. na'udzubillah..
Sabtu, 28 Juni 2017
========
Saya nangis baca kembali ini... Allah.. ampuni saya..
Kamis, 19 Oktober 2017
Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar :)