Sebagian orang


Assalamu'alaikum :D
Apa kabar?
Semoga selalu sehat dan bahagia versimu:)

Sebenarnya menulis postingan ini mood nya tadi malam, tapi ketiduran  ya semoga mood nya masih kebawa dipagi ini :))
Yuk dicoba ajaaa!

Ria ini adalah seseorang yang ingin dianggap ada oleh orang lain, terdengar ga tulus, tapi bukan itu maksudnya. Simply ria ingin ketika sedang bersama orang lain ntah itu lagi ngobrol langsung ataupun via chat ria merasa temannya memang sedang ngobrol dengannya.

Kebayang ga? Hmm, begini..
Ria merasa kurang nyaman ketika disepanjang obrolan itu temannya ga menyebut namanya, sekali dua kali tiga kali empat kali lima kali ga menyebut namanya ria masih bisa tenang, tapi kalo obrolan udah jauh dan agak lama sedang dia masih juga belum menyebut namanya di awal atau di tengah atau di akhir kalimatnya ria mulai merasa "hey dude, whom are u talking with?"
Bahkan ria pernah hampir mau nangis hanya karna di sepanjang obrolan whatsapp teman chat nya ini sama sekali ngga menyebut namanya. Sama sekali ngga.

Lo cengeng! Kebawa perasaan! Gitu aja dipikirin!
Apakah ini hanya sekedar masalah hati yg sensitif? Aku rasa ngga.
Ini manusiawi, semua orang akan merasa hal seperti ini jika dia mau jujur.
Sebenarnya apa yg membuat kita enggan untuk menyebut nama lawan bicara kita sih? Gengsi kah? Merasa ga perlu kah? Atau memang kalimat kita akan berantakan padanannya kalau kita menyisipkan nama lawan bicara kita?
Bukankah itu akan lebih cair, menyenangkan, bersahabat, beraura positif, dan menghormati lawan bicara kita?
Sampai sini mulai merasa menulis dengan perasaan ya hahahaa ga kekontrol nih huhu *seka bulir2 air di pipi*

Oke balik lagi,
Menyisipkan nama lawan bicara memang ga mesti sering2 bgt atau tiap kali kita mengeluarkan kalimat, ya kali capek juga yg ngomong sm yg denger 
yg penting kita tau kapan mesti menyisipkan nama org tsb, eh sebenernya ini ga perlu diajarin atau diingetin kapannya ya karna ini pasti ngalir begitu aja ketika kita lagi ngobrol. Iya ga sih? 
Ga mesti juga menyebut nama lengkapnya ditambah bin atau binti atau titel si orang itu ya kecuali dalam situasi formal mungkin itu dibutuhkan, tapi kalau untuk ngobrol santai antara dua orang ya cukup kok dengan menyebut nama panggilannya atau penggalan dari awalan/akhiran namanya.

Contoh:
"Iya yang aku tau sih gitu, emang kamu belum tau Wid?"
"Ran buku perpus boleh kita pinjem maksimal berapa sih?"
"Semua memang sudah direncanakan seperti itu oleh Allah, tugas kita hanyalah melakukan semuanya dengan ikhlas dan husnudzon. Aku yakin Icha pasti bisa!"
Dsb, ya gitulah kira2:))

Aku pribadi ga masalah ketika teman mengobrolku ga menyebut namaku sepanjang obrolan, dengan alasan dia memang seperti itu orangnya ke oranglain pun dia seperti itu, jadi aku ga perlu merasa sedih/tersinggung hehehe (ah yg bener..)
Dan aku akan tetap melakukan hal yang sepertinya orang akan senang ketika dia sedang mengobrol denganku :D

Aku ga perlu balas dengan balik ga nyebut namanya, itu hanya akan membuat obrolan kita makin kaku, beku, ga bersahabat, aura sinis, dan ga enak dibaca tentunya :3
Ga apa orang lain berbuat demikian ke kita, yg penting kita tau hal tsb menyenangkan kok untuk kita apabila kita jadi dia yg disebut namanya 
Sampe ada yg bilang, "pengen banget wid disebut namanya? Pengen banget?" awas aje haha 

the lasttt..


"Be the person/Muslim you want to meet"


That's the point i wanna share todayyy
Let's try!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAO, apa sih TAO?

jikoshoukai die Bekanntschaft

Teruntuk adik-adik 2016